Mengapa sih Milih Berbisnis ?

Sebelum saya lanjutin kisah jualan saya yang suka norak itu, saya pengen nulis ini dulu yah…

Mengapa kita milih berbisnis ?  Hayo, yang tahu jawabannya pada ngacung ! :D

Mengapa Allah menuntun Rasulullah menjadi pedagang sebelum diangkat menjadi Nabi ?

Hm…ini menurut saya ya…silahkan kalo punya pendapat sendiri

Pertama, dengan jadi pedagang/pebisnis kita jadi dilatih untuk kerja keras dan kerja cerdas.Bukan asal jungkir balik siang malam, jualan sana-sini.  Tapi kita juga dituntut punya strategi.  Menimbang mana yang tepat, yang efektif, yang menguntungkan, dst.

Kedua, kita jadi bisa menghargai waktu dan setiap usaha yang kita lakukan.  Santai dan menyia-nyiakan waktu berarti menghilangkan kesempatan dan peluang.  Saya termasuk yang tidak terlalu setuju jika waktu diidentikkan dengan uang (time is money).  Menurut saya, waktu itu amanah dari Allah yang harus kita jalani dengan baik. Mungkin tidak menghasilkan uang buat diri sendiri, tapi saya selalu berusaha meyakini bahwa setiap tetes jerih itu akan berbuah ganjaran yang jauh lebih baik dari Allah.

Ketiga, jadi terlatih membangun dan membina kerjasama dan jaringan. Iya nggak sih ? Di sini letak pentingnya silaturrahiim.  Makanya Rasul katakan banyak silaturrahiim itu mendatangkan rezeki.

Keempat, jadi jeli melihat segala peluang, dan tangkas mengatasi tantangan. Atau bahasa lainnya nggak gampang putus asa, mutung, menyerah

Kelima, jadi belajar sabar dan bersyukur

Keenam, hm…jadi kreatif

Ketujuh…iih lanjutin sendiri aja ya. Banyak kok. Ntar saya tambahin kalo udah kepikiran lagi

Tapi…

Nggak semua orang kuat lho bertahan di jalan ini.

Bukan nakut-nakutin !  Tapi ini serius..sst !

Kenapa ?

Karena ketika kita memutuskan untuk menjalani bisnis, kita harus siap bersakit-sakit dulu.  Semua bisnis -apapun itu- selalu tak bisa kita nikmati hasilnya dengan segera kayak nyeduh mie instan. Voila ! Simsalabim, jadi apa-apa…Prok-prok-prok !

Langsung jadi kaya !  Heu…

Bisnis menurut saya berarti kita melakukan sesuatu saat ini untuk dinikmati nantiiii…Mungkin bulan depan, tahun depan, beberapa tahun lagi, entah…Tapi pasti, insya Allah kalau kita terus usaha, buahnya pasti akan kita petik suatu saat.

Jadi, apakah saya sudah menikmati buah dari usaha saya ?

So far…saya katakan belum.

Saya sedang berusaha menanam pohon jati, bukan jagung

Do’akan yah :)

Kisah Jualan #1 ; Buku

Jadi, inilah petualangan pertama saya yang serius mulai berbisnis

Eh, sebentar…

Sebetulnya, di tahun 1993 saya sempat patungan dengan seorang teman. Waktu itu saya masih siswa sebuah SMA di Kaltim. Kami mendistribusikan buku Islam dan perlengkapan busana muslim yang kami ambil dari Jakarta.  Saking pengennya cepet laku dan berkah, kami hanya menaikkan harga 1000 rupiah dari harga netto setiap barang yang kami jual, sekedar mengganti ongkos kirim.  Alhamdulillah…permintaan banyak. Sayang, modalnya tak banyak karena adaaa aja yang nunggak…heu

Nah… tahun 2001, saya kembali menekuni jualan buku.  Waktu itu, saya ikut boyongan sama suami ke sebuah kota kecil di Kalsel. Beneran kecil kotanya, muter-muter mentok ke sono juga.

Yang bikin tambah berasa sepi adalah…di sini, waktu itu belum ada Perpustakaan daerah. Padahal kota kecil ini punya sebuah PTN yang cukup ternama di Kalimantan. Toko bukunya juga cuma ada dua biji.  Itu juga koleksi bukunya jauuuuuh dari memadai.

Nah,kebetulan saya dan suami sama-sama suka beli buku (bacanya ntar-ntar.. :P ). Kami yang terbiasa “dimanjakan” oleh membanjirnya buku di kota Yogya bener-bener jadi merasa kesepian.  Buku di rak sudah pada dibaca (kecuali yang tebel-tebel hihihi). Jadilah kami uring-uringan menerima kenyataan ini *halah*

Akhirnya, kami berdua sepakat, “Hayuk kita jualan buku saja.”

“Setidaknya,kita punya banyak buku buat dibaca.  Koleksi buku kita juga jadi bisa nambah dengan buku-buku baru.” YES !

Tanpa ba bi bu, apalagi pake riset njelimet, survey dan segala macamnya. Dengan modal minjam, kami mendirikan toko buku.  Namanya keren mentereng. Toko Buku dan Perlengkapan Muslim “Cendekia”.  Letaknya nyempil di dalam kompleks perumahan di belakang kampus.  Di rumah kontrakan kami.  Rak-rak kayu dibuat sendiri oleh suami*heu…terharu kalo ingat episode ini*

Belajar dari pedagang buku di kota Yogya, kami memberikan fasilitas discount dan sampul plastik untuk setiap buku yang dibeli. Biar rame, jualan juga ditambah jilbab, kaos kaki, pernak-pernik seperti stiker, gantungan kunci, de el el.

Lalu ?

Jreng !! Ternyata oh ternyata…

Minat membeli buku di kota ini sangat memprihatinkan.  Kalo minjam dan baca sih kayaknya lumayan banyak yang suka.

Hiks…sedihnya.

Perjalanan toko buku saya jadi lambat melebihi leletnya keong.

Tetap sih ada perkembangan. Saya punya pelanggan tetap.  Anak-anak SMA yang riuh berkicau setiap kali datang novel baru. Admin sebuah perpustakaan sekolah juga tiap bulan rutin membeli buku ke toko. Perpustakaan masjid kampus juga pernah meminta discount buku untuk menambah koleksi mereka. Begitu juga berbagai organisasi kampus yang suka ngajak kerja sama bazar.

Yang paling menyenangkan adalah… ketika akhirnya berdirilah sebuah perpustakaan daerah di kota ini. Dan mereka memesan banyak buku pada toko buku kami. Alhamdulillah…

Dua tahun kemudian, hiks…

Kami harus kembali lagi ke Yogya karena suami harus meneruskan studinya. Dan toko buku terpaksa kami alihkan sebagian kepemilikannya.  Hingga…hanya hitungan bulan

Kolep ! Blep ! Mati…

Dari pengalaman ini, saya mengambil banyak pelajaran. Antara lain (ntar saya tambah lagi kalo dah kepikir ya…)

Adalah tidak salah memulai bisnis dari sesuatu yang kita sukai.  Itu malah bagus. Tapi jangan jadikan itu sebagai satu-satunya pertimbangan. Tetap lakukan survey kecil-kecilan dululah sebelumnya. Baru memutuskan bisnis apa yang akan kita jalankan di sana.

Kita akan mendapatkan buah seperti yang kita inginkan di awal.  See…lihat motifasi awal kami membuka toko buku : “Setidaknya,kita punya banyak buku buat dibaca.  Koleksi buku kita juga jadi bisa nambah dengan buku-buku baru.”

Nah…niat itu beneraaan kesampaian.  Tiap hari kami punya buku buat dibaca dan didiskusikan.Koleksi buku juga makin melar sampai raknya nggak muat.

Ah, harusnya motivasi yang dipancangkan jauuuh melampaui itu ya.

Ya sudahlah…hitung-hitung belajar kan.

Setidaknya saya jadi tahu rasanya jadi penjual buku :P

Jadi,kalo ntar jadi penulis nggak mencak-mencak kalo distribusi bukunya nggak seperti yang dibayangkan.  “Emang gampang jualan buku.” :P

(Ntar saya ubek-ubek album dulu yah.Nyari foto almarhum toko saya itu)

Sejak Kapan Saya Mulai Berbisnis ?

Hm…Nggak mungkin sejak orok kan ? Hahaha….

Tapi, seingat saya sih sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan aktivitas berjualan.Mungkin karena saya lahir dan besar dari keluarga pedagang ya ? Kalau saya buka-buka album masa kecil, sering menemukan saya sedang berpose di tengah barang  jualan

Lalu, kapan tepatnya saya mulai berbisnis ?

Kelas 1 SD.  Waktu itu, saya punya bejibun majalah anak-anak.  Bobo, Ananda, Trigan.  Daripada numpuk di rak buku, akhirnya majalah itu saya sewakan. Hehe… Tahun 1983 waktu itu.  Majalah Bobo dan Ananda saya sewakan 50 perak per hari, kalo Trigan 100 perak sehari.

Berhasil ?

Alhamdulillah, sukses besar.  Teman-teman yang nggak semuanya langganan majalah tersebut pada berebut pinjam.  Maklum, saya waktu itu tinggal di desa. Akses informasi sangat sedikit. Nggak ada sarana hiburan juga.  Jadilah aktivitas membaca majalah cerita bergambar jadi begitu mengasyikkan.

Beberapa bulan kemudian,celengan saya sudah penuh.  Dan ketika dihitung uangnya ada 30 ribu rupiah sekian.  Heu…zaman prasejarah gitu. Jumlah yang cukup besar tuh.

Bocah SD kelas 1, tinggal di desa pula. Mau dikemain uang segitu banyak ?

Heu…saya juga bingung.

Akhirnya uang hasil bisnis pertama saya itu (yang semuanya receh:D ) saya serahkan dengan suka cita kepada Mama tersayang.

Nah, giliran beliau yang bingung.

Lha, ini receh kok banyak sekali ? Mau dikemanain ?

Ternyata itu uang receh jadi uang saku saya juga setiap hari

Hahaha…balik lagi.

Assalamu ‘alaikum

Welcome to my site. This’s just another story about me.

Selamat membaca, semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan nggak penting saya ini. Kalo biasanya saya cerita tentang keseharian, atau dunia tulis menulis. Di sini saya khusus nulis tentang aktivitas saya sebagai pedagang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.